Home » » Hakikat Sekolah yang Bermutu

Hakikat Sekolah yang Bermutu

Sekolah bermutu sangat erat kaitannya dengan adanya keterlibatan masyarakat secara totalitas di dalamnya. Mutu menuntut adanya komitmen pada kepuasaan pelanggan yang memungkinkan adanya perbaikan pada para kariyawan, siswa dalam mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.

Berkenaan dengan sekolah bermutu, ada beberapa model (karakteristik) sekolah bermutu yang dikemukakan oleh Jerome S. Arcaro (2007) diantaranya adalah.
a) Fokus pada kostumer. Dalam meningkatkan penyelenggaraan mutu pendidikan sekolah harus melayani kebutuhan kostumer baik internal maupun ekstrenal,
b) Keterlibatan total. Semua komponen yang berkepentingan (warga sekolah dan warga masyarakat dan pemerintah) harus terlibat secara langsung dalam pengembangan mutu pendidikan.

c) Pengukuran. Pengukuran dilakukan dengan cara evaluasi, evaluasi ini dijadikan acuan dalam meningkatkan penyelenggaraan mutu pendidikan. Salah satu bagian yang sering dijadikan instrumen pengukuran adalah nilai prestasi siswa,
d) Komitmen. Hal lain yang menyangkut pendidikan bermutu adalah adanya komitmen bersama terhadap budaya mutu utamanya komite sekolah dan pemerintah.
e) Memandang pendidikan sebagai sistem. Pandangan seperti ini akan mengeliminasi pemborosan dari pendidikan dan dapat memperbaiki mutu setiap proses pendidikan
.
f) Perbaikan berkelanjutan. Prinsip dasar mutu adalah perbaikan secara terus-menerus (berkelenjutan) langkah ini dilakukan secara konsisten menemukan cara menangani masalah dan membuat perbaikan yang diperlukan.
Model sekolah bermutu dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1. Model Sekolah Bermutu










Dalam rangka mengetahui mutu pendidikan pada sekolah dengan cara mengukur kekuatan dan kelemahan. Berikut contoh latihan pengukuran tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 2. Analisis Sekolah Bermutu Terpadu

Pilar Mutu

Kekuatan

Kelemahan

Fokus pada kostumer

Secara berkala mengadakan pertemuan dengan staf, siswa, orangtua dan wakil-wakil komunitas untuk merumuskan keinginanya

Tidak menanggapi keluhan/kepedualian staf, siswa orang tua atau komunitas.

Keterlibatan total

Para staf sama-sama bertanggung jawab untuk memecahkan masalah saat pengembangan sekolah bermutu terpadu

Secara umum, staf menunggu manajemen atau orang lain memecahkan masalah.

Pengukuran

Menggumpulkan data untuk mengukur perbaikan dan untuk mengembangkan solusi

Tidak mencatat kemajuan. Hanya berjalan menuju masalah berikutnya.

Komitmen

Manajemen memiliki komitmen untuk memberikan pelatihan, sistem dan proses yang dibtuhkannya untuk mengubah cara kerja guna memperbaiki mutu dan meningkatkan produktivitasi

Dukungan untuk mutu terisolasi dan tidak diakui oleh taf, siswa dan komunitas.

Perbaikan berkelanjut-an

Secara konstan mencari cara untuk memperbaiki setiap proses pendidikan

Mengisi dengan hal-hal sebagaimana adanya sekalipun ada masalah tidak menganggapnya sebagai masalah.


Disamping model (karakter) tersebut di atas, ada juga hal yang berkenaan dengan kepuasan pelanggan (masyarakat) terhadap layanan suatu lembaga pendidikan. Hal ini dimaksudkan bahwa layanan suatu lembaga pendidikan dikatakan bermutu baik, jika lembaga pendidikan tersebut dapat memberikan kepuasan pelayanan kepada pelangganya. Fandy Tjiptono (2003) mengatakan semua usaha manajemen dalam MMT diarahkan pada suatu tujuan utama, yaitu terciptanya kepuasan pelanggan.

Hendyat Soetopo, (2007) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan berarti sistem pendidikan harus dilaksanakan demi pencapaian pihak-pihak yang berkepentingan (para orang tua, pemakai lulusan, penyandang dana, pemerintah, dan pihak lain) yang selama ini peduli dan turut berpartisipasi dalam peningkatan mutu sekolah. Dengan demikian keberhasilan sekolah juga dapat diukur dari tingkat kepuasan pelanggannya baik pelanggan internal maupun eksternal.

Berkenaan dengan tingkat keberhasilan suatu sekolah, menurut Hendyat Soetopo (2007), ada beberapa komponen yang berhubungan secara langsung dengan keberhasilan mutu sekolah yang meliputi sifat-sifat layanan demi kepuasan pelanggannya yang meliputi: a) Siswa puas dengan layanan sekolah, antara lain puas dengan pelajaran yang diterima, diperlakukan oleh guru dan pimpinan, fasilitas yang disediakan, atau siswa menikmati situasi sekolah);
b) Orang tua siswa puas dengan layanan terhadap anaknya maupun layanan kepada orang tua, (puas karena mendapat laporan periodik tentang perkembangan siswa maupun program-program sekolah);
c) Pihak pemakai/pemerima lulusan (perguruan tinggi, industri, masyarakat) puas karena menerima lulusan dengan kualitas yang sesuai dengan harapan;
d) Guru dan kariyawan puas dengan pelayanan sekolah, (pembagian kerja, hubungan antara guru/karyawan/pimpinan, gaji/honorarium, dan sebagainya).

Sedangkan sifat layanan harus diberikan sekolah agar pelanggan (siswa, orang tua siswa, pemakai luluan, guru, kariyawan, pemerintah, dan masyarakat) puas, mencakup kepercayaan (reliability) artinya layanan sesuai dengan yang dijanjikan (dalam rapat, brosur, dan sebagainya) sifatnya terus-menerus dan bukan hanya waktu tertentu. Aspek-aspek kepercayaan antara lain: kejujuran, aman, tepat waktu, dan ketersediaan. Keterjaminan (assurance) artinya, sekolah mampu menjamin kualitas layanan yang diberikan. Aspek-aspek dalam keterjaminan, (kompetensi guru/staf, dan keobjektifan).

Penampilan (tangible) artinya, bagaimana situasi sekolah tampak baik. Aspek-aspek penampilan, (kerapian, keberihan, ketera-turan, dan keindahan). Perhatian (empathy) artinya, sekolah memberikan perhatian penuh kepada pelanggan. Aspek-aspek dalam perhatian, (melayani pelanggan dengan ramah, memahami aspirasi mereka, berkomunikasi dengan baik). Dan ketanggapan (responsiveness) artinya, sekolah harus cepat tanggap terhadap kebutuhan pelanggan. Aspek-aspek dalam ketanggapan, (tanggap terhadap kebutuhan pelanggan, dan cepat memperhatikan dan mengatasi keluhan-keluhan yang muncul).

Rujukan:
1. Jerome S. Arcaro, “Quality in Education: an Implementation Handbook” diterjemahkan oleh Yosal Iriantara, Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-Prinsip dan Tata Langkah Penerapan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2007), 38-44.
2. Fandy Tjiptono, et.al., Total Quality Mangement (Yogyakarta, 2003), 102.
3. Hendyat Soetopo, et.al., Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan (Jakarta: Bina Aksara, 1984), 126-129.


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel baru yang terbit di Blog Kabar Pendidikan

0 Komentar:

 
Support : Majalah Pendidikan | INSPIRE Consulting | Gudang Makalah | Grosir Laptop
Copyright © 2011. Majalah Pendidikan - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger