Home » » Metode Penanaman Nilai-nilai Islam

Metode Penanaman Nilai-nilai Islam

Artikel ini mbembahas tentang Urgensi Metode Pembiasaan dan Keteledanan Dalam Penanaman Nilai-nilai Islam, untuk itu pertama-tama akan dibahas tentang penerapan metode pembiasaan dan dilanjutkan dengan aplikasi metode keteladanan dalam upaya penanaman nilai-nilai Islam.

***

Kebiasaan mempunyai peranan paling penting dalam kehidupan manusia, karena kebiasaan akan menghemat kekuatan pada manusia. Namun demikian kebiasaan juga akan menjadi penghalang manakala tidak ada “penggeraknya”. Sedangkan metode keteladanan diterapkan secara bersama-sama dengan metode pembiasaan, sebab pembiasaan itu perlu adanya keteladanan dari seorang guru dan dengan contoh tersebut guru diharapkan menjadi teladan yang baik.

Islam menggunakan kebiasaan itu sebagai salah satu teknik pendidikan, lalu ia merubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan. Menurut Quthb (dalam Ismail SM, 2002 : 224) dalam menumbuhkan kebiasaan, harus dihidupkan dulu kecintaan, seterusnya mengubah kecintaan itu menjadi kegairahan, berbuat sekaligus kecintaan yang gairah, tidak merupakan tindakan yang hampa dengan perasaan senang. Sedang menurut Moezlichatoen (dalam Ismail SM, 2002 : 225), agar terjadi pembiasaan tingkah laku yang baik terlebih dahulu diciptakan iklim sosial yang dapat meningkatkan perasaan saling percaya karena tingkah laku yang baik hanya dapat terjadi dalam suasana saling percaya.

Pembiasaan yang sifatnya adalah pengulangan merupakan teknik pendidikan yang jitu, walaupun ada kritik terhadap metode ini karena cara ini tidak mendidik siswa untuk menyadari tentang apa yang dilakukannya. Pada mulanya anak merasa dipaksa untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut, namun lama kelamaan anak akan terbiasa melakukannya dan akan melekat kedalam jiwa sang anak dan bahkan kalau tidak melakukannya akan terasa ada beban yang membebaninya. Sedangkan ditinjau dari segi perkembangan anak, pembentukan tingkah laku melalui pembiasaan akan membantu anak untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang.

Metode pembiasaan tidak akan sempurna jika tidak tidak diiringi dengan metode keteladanan. Karena anak didik selain melakukan pembiasaan, juga perlu adanya seorang figur yang dijadikan contoh untuk ditiru. Secara psikologis anak senang meniru, tidak saja yang baik-baik yang jelek pun ditirunya, dan secara psikologis pula manusia membutuhkan tokoh teladan dalam hidupnya. Disinilah letak relevansi dan keterkaitan antara metode keteladanan dengan metode pembiasaan, artinya guru tidak hanya bisa bicara (memerintah) tetapi juga harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak.

Internalisasi nilai-nilai agama Islam melalui pembiasaan dan keteladanan, misalkan dalam bidang akhlak yaitu dengan jalan membiasakannya untuk bertingkah laku atau berakhlak Islam. Dalam menumbuhkan kebiasaan berakhlak baik seperti; kejujuran, adil, berlaku benar, memelihara lidah, tiada dusta, yang kesemuanya itu dapat bermanfaat untuk membentuk pribadi muslim anak.

Dalam hal ini, orang tua asuh atau pendidik harus mampu memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari maka dalam diri sang anak akan tertanam kepribadian yang baik. Contoh, si anak terbiasa menerima perilaku adil dan dibiasakan berbuat adil, maka dalam diri pribadi anak akan tertanam rasa keadilan dan akan menjadi salah satu unsur pribadinya.

Dalam bidang ibadah yaitu dengan membiasakan setiap harinya sholat wajib lima waktu berjamaah dan membiasakan sholat sunnah baik sholat sunnah rawatib maupun sholat sunnah malam, serta membiasakan setiap hari senin dan kamis untuk berpuasa sunnah. Dengan begitu anak akan terbiasa melaksanakan syariat Islam dan dalam dirinya akan tertanam pribadi yang baik. Tidak lupa pula sebagai pendidik juga harus memberikan contoh terhadap apa yang mereka anjurkan.

Dengan pembiasaan-pembiasaan akan dapat memasukkan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang tumbuh, karena kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah terbentuk pada diri seorang anak akan merasa ringan untuk mengerjakan apa-apa yang telah menjadi kebiasaanya.
Dr Zakiyah Drajat berpendapat :
“Apabila si anak terbiasa melaksanakan ajaran agama terutama ibadah (secara konkrit seperti sembahyang, puasa, membaca Al-Quran dan berdoa) dan tidak pula dilatih atau dibiasakan melaksanakan hal-hal yang disuruh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, serta tidak dilatih untuk menghindari larangan-Nya, maka pada waktu dewasanya nanti ia akan cenderung kepada acuh tak acuh, anti agama atau sekurang-kurangnya ia tidak merasakan pentingnya agama bagi dirinya. Tapi sebaliknya anak yang banyak mendapat latihan dan pembiasaan agama, pada waktu dewasanya nanti akan semakin merasakan kebutuhan akan agama.”

Membiasakan anak terhadap ibadah seperti di atas, dalam kehidupan sehari-hari akan besar manfaatnya terhadap peserta didik atau anak asuh, dimana kesan agama akan semakin meresap dalam kehidupan pribadinya secara mendalam sehingga benar-benar menyatu dan tercermin dari segala gerak langkahnya dalam perjalanan hidupnya kelak.




Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel baru yang terbit di Blog Kabar Pendidikan

0 Komentar:

 
Support : Majalah Pendidikan | INSPIRE Consulting | Gudang Makalah | Grosir Laptop
Copyright © 2011. Majalah Pendidikan - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger