Home » » Pengertian Bimbingan Konseling

Pengertian Bimbingan Konseling


Secara etimologis kata peran adalah harapan tentang perilaku yang patut bagi pemegang jabatan tertentu dalam organisasi/lembaga; khususnya menyangkut fungsi yang dilaksanakan. Sedangkan Bimbingan merupakan terjemahan dari kata “ Guidance” berasal dari kata kerja “ to Guidance” yang mempunyai arti “ membimbing, menuntun, ataupun membantu” . (Hallen A, 2002:3). Sesuai dengan istilahnya, maka Bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan. Bantuan dalam pengertian Bimbingan menurut terminologi Bimbingan dan Konseling haruslah mempunyai syarat-syarat tertentu sebagaimana di kemukakan di bawah ini:
Definisi Bimbingan yang pertama di kemukakan Hallen (2002: 3), menyatakan :
Guidance is a process of helping individual through their own offort to discover and develop their potentialities both for personal happiness and social usefulness. Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

Sedangkan menurut Athur J.Jones, (dalam Hallen, 2002: 4) mengemukakan :
Bimbingan sebagai pertolongan yang di berikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat piliha-pilihan penyesuaian diri dan pemecahan problem-problem. Tujuan bimbingan itu membantu orang tersebut untuk tumbuh dalam hal kemandirian dan kemampuan bertanggung jawab bagi dirinya sendiri.

Rumusan yang lain juga dikemukakan oleh Smith (dalam Prayitno & Erman Amti, 1999 : 99) sebagai berikut :
Bimbingan adalah bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematis guna membantu anak muda atas kekuatannya sendiri, yang pada akhirnya ia dapat memperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat.

Selanjutnya rumusan yang diberikan oleh Rochman Natawidjaja (dalam Hallen A, 2002: 5). Menyatakan :
“Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya dan dapat bertindak secara wajar sesuai dengan tuntunan dan keadaan lingkungan sekolah keluarga dan masyarakat, serta kehidupan umumnya. Dengan demikian ia dapat menikmati kebahagiaan hidup dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat umumnya, bimbingan membantu individu mencapai perkembangan diri secara optimal sebagai mahluk sosial”.

Berdasarkan butir-butir pengertian yang dikemukakan para ahli tersebut di atas maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri; dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

Pengertian Konseling
Secara etimologis konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium”, yang berarti “dengan”, atau “bersama”, yang dirangkai dengan “menerima”, atau “memahami“, dalam bahasa Anglo Saxon, istilah konseling berasal dari “Sellan” yang berarti “menyerahkan”, atau menyampaikan. (Prayitno & Erman Amti, 1999: 99). Sedangkan istilah konseling dari bahasa Inggris “to Counsel” yang secara etemologis yang berarti “to give Advice” Hornby (dalam Hallen A 2002:9), atau yang memberi saran dan nasehat.

Disamping itu, istilah bimbingan dirangkaikan dengan istilah konseling. Hal ini disebabkan oleh karena bimbingan dan konseling itu merupakan kegiatan yang integral, konseling merupakan salah satu tehnik dalam penyelenggaraan bimbingan diantara teknik lainnya, namun konseling sebagaimana dikatakan oleh Schmuller adalah “The heart of guidance program” (Sukardi, 2002 : 11) Selanjutnya di katakan pula oleh Ruth Strang (dalam Hallen, 2002: 10) bahwa : “Guidance is breader; counseling is a most importance tool of guidance“, bimbingan itu lebih luas, dan konseling merupakan alat yang paling penting dari pelaksanaan bimbingan.

Untuk mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang konseling maka berikut ini akan di uraikan beberapa definisi konseling yang dimukakan oleh para ahli Rogers (dalam Hallen A, 2002:10) mengemukan sebagi berikut :
Counseling is aseries of direct contacta with the individual which aims to offer him assistance in changing his attitude and behavior.

Konseling adalah serangkai hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya. Sedangkan menurut Pepinsky (dalam Prayitno & Erman Amti 1999:104) adalah sebagai berikut:
“. . . Interaksi yang: 1) Terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan klien. 2) Terjadi dalam suasana yang profesional. 3) Dilakukan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan-perubahan dalam tingkah laku Klien”.

Definisi tentang konseling juga dikemukakan oleh Jones, (dalam Prayitno & Erman Amti 1999: 104).
“. . . .Konseling adalah dimana semua fakta dikemukakan dan semua siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk di atasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan”.

Berdasarkan definisi yang dikemukan di atas konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru pembimbing atau konselor dengan klien; dengan tujuan agar klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, maupun memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konseling adalah proses pemberian bantuan yang di lakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang di hadapi oleh klien.


Daftar Rujukan:
1. Hallen , A, 2002. Bimbingan dan Konseling dalam Islam, Jakarta; Ciputat Pers.
2. Mudjiono, 1992. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
3. Notoatmodjo, Soekidjo, 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
4. Nursalam, 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.
5. Prayitno & Erman Amti, 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta.
6. Prayitno. 2001. Buku Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Padang: P4T IKIP Padang.
7. Slameto, 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
8. Sudjana, Nana, 2003. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
9. Sukardi, Dewa Ketut. 2003. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
10. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Citra Umbara.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel baru yang terbit di Blog Kabar Pendidikan

0 Komentar:

 
Support : Majalah Pendidikan | INSPIRE Consulting | Gudang Makalah | Grosir Laptop
Copyright © 2011. Majalah Pendidikan - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger