Home » » Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Tradisonal

Perbedaan Pembelajaran Kooperatif dengan Tradisonal


Nurhadi dkk (2004) mengemukakan sejumlah perbedaan antara belajar tradisional (belajar kelompok biasa) dengan belajar kooperatif sebagai berikut:

No

Kelompok Belajar Kooperatif

Kelompok Belajar Tradisional

1

Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif.

Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.

2

Adanya akuntabilitas individul yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.

Akuntabilitas individual seringkali diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok lainnya hanya enak-enak saja diatas keberhasilan temannya yang dianggap ‘pemborong’.

3

Kelompok belajar heterogen baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik dan sebagainya sehingga dapat saling menghargai satu sama lain.

Kelompok belajar biasa biasanya homogen dan seringkali menganggap kelompok lain sebagai musuh yang harus dikalahkan.

4

Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman memimpin bagi para anggota kelompok.

Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing.

5

Keterampilan sosial yang diperlukan dalam kerja gotong royong seperti kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, mempercayai orang lain dan mengelola konflik secara langsung diajarkan.

Keterampilan sosial jarang diajarkan.

6

Pada saat belajar kooperatif sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan melakuakan intervensi jika terjadi masalah dalam kerja sama antar anggota kelompok.

Pemantauan melalui observasi dan intervensi jarang dilakukan oleh guru pada saat belajar kelompok berlangsung.

7

Guru memperhatikan secara langsung proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.

Guru seringkali tidak memperhatikan proses kelompok yang terjadi dalam kelompok-kelompok belajar.

8

Penekanan tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi yang saling menghargai).

Penekanan seringkali hanya pada penyelesaian tugas.




Dalam pembelajaran kooperatif ini tugas seorang guru adalah sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran mata pelajaran ekonomi. Guru hanya mengkondisikan siswa agar siswa belajar dengan baik sehingga siswa akan aktif mengalami, mencari dan menemukan berbagai ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dengan bimbingan guru. Guru harus terus mendorong dan melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar serta harus berusaha menyediakan kondisi yang kondusif sehingga siswa mau belajar dengan baik.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel baru yang terbit di Blog Kabar Pendidikan

0 Komentar:

 
Support : Majalah Pendidikan | INSPIRE Consulting | Gudang Makalah | Grosir Laptop
Copyright © 2011. Majalah Pendidikan - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger