Home » » Pondok Pesantren dalam Tinjauan Historis

Pondok Pesantren dalam Tinjauan Historis

Pondok Pesantren dalam Tinjauan Historis
Pada mulanya, pesantren merupakan lembaga pendidikan penyiaran agama Islam–konon tertua di Indonesia, sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat, fungsi itu telah berkembang menjadi semakin kaya dan bervariasi, walau pun pada intinya tidak lepas dari fungsi yang mula-mula.

Banyak sekali asal usul berdirinya sebuah pondok pesantren. Pada umumnya lembaga ini berdiri karena masyarakat mengakui keunggulan sesosok kiai dalam ketinggian ilmu dan kepribadian yang arif. Kemudian mereka mendatanginya dan belajar bersama untuk memperoleh ilmu tersebut. Masyarakat ada yang berasal dari lingkungan sekitar dan luar daerah. Sehingga mereka membangun bangunan didekat rumah kiai sebagai tempat tinggal.

Berdirinya suatu pesantren mempunyai latar belakang yang berbeda, yang pada intinya adalah memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus akan ilmu. Pada umumnya diawali karena adanya pengakuan dari suatu masyarakat tentang sosok kiai yang memiliki kedalaman ilmu dan keluhuran budi. Kemudian masyarakat belajar kepadanya baik dari sekitar daerahnya, bahkan luar daerah. Oleh karena itu mereka membangun tempat tinggal disekitar tempat tinggal Kiai.

Sedangkan mengenai asal usulnya berdirinya suatu pondok pesantren di Indonesia, dalam Eksiklopedi Islam disebutkan :
Terdapat dua versi pendapat megenai asal usul dan latar belakang berdirinya pondok pesantren di Indonesia. Pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar dari tradisi tarekat. Kedua, pondok pesantren yang kita kenal sekarang ini pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem pesantren yang diadakan dari orang-orang Hindu Nusantara.

Pada pendapat pertama menjelaskan bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada awalnya banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat. Hal ini ditandai oleh terbentuknya kelompok-kelompok tarekat yang melaksanakan amalan-amalan dzikir dan wirid-wirid tertentu. Pemimpinnya dinamakan kiai, yang mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk melaksanakan suluk selama empat puluh hari dalam satu tahun dengan cara tinggal bersama dengan anggota tarekat lain dalam sebuah masjid untuk melaksanakan ibadah-ibadah dibawah bimbingan kiai. Untuk keperluan suluk ini, para kiai menyediakan ruang khusus untuk penginapan dan tempat memasak, yang terletak dikiri kanan masjid. Disamping mengajarkan amalan-amalan tarekat para pengikut ini juga diajarkan kitab-kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pendidikan Islam. Aktifitas yang dilakukan oleh pengikut tarekat ini kemudian disebut pengajian. Dalam perkembangannya lembaga ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren.

Para kiai sangat menekankan pentingnya shalat dan zikir sebagai cara utama dalam meningkatkan kehidupan spiritualitas seseorang. Salat dan dzikir pada dasarnya menyebut-nyebut nama Tuhan untuk melepaskan ketertarikan dirinya denagn alam duniawi, dan menyadari hakikatnya sebagai makhluk Allah. kiai Syansuri Badawi (Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng) menjelaskan bahwa para kiai mengikuti tradisi Imam Malik yang mengajarkan bahwa seseorang Muslim yang mempelajari syari’ah Islam tetapi melupakan aspek tasawuf, akan menjadi munafik. Seorang Muslim yang mempelajari tasawuf tetapi mengabaikan syariah akan Kafir Zindiq, dan seorang Muslim mempelajari kedua-duanya (syariah dan tasawuf) akan memperoleh kesempurnaan dalam keIslaman.

Sedangkan pada pendapat yang kedua berdasarkan fakta bahwa jauh sebelum Islam datang ke Indonesia lembaga pesantren sudah ada di negeri ini. Pendidikan pesantren pada masa itu dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu dan tempat membina kader-kader penyebar Hindu. Fakta lain mengatakan bahwa pesantren bukan berakar dari tradisi Islam, karena tidak ditemukan lembaga pesantren di negeri Islam lainnya. Sementara ditemukan dalam masyarakat Hindu dan Budha seperti di Indian, Myanmar dan Thailand.

Pendapat diatas diperkuat oleh dikatakan oleh Nurcholish Madjid, secara historis, lembaga pesantren telah dikenal lebih luas dikalangan masyarakat Indonesia pra Islam. Islam datang dan tinggal mengislamkan. Dengan kata lain, pesantren tidak hanya diidentik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous), lantaran lembaga yang merupakan pesantren ini sebenarnya sudah ada sejak masa kekuasaan Hindu Budha.

Dari pendapat ini dapat kita ketahui bahwa sangat tepat bahwa para wali dan pengajar agama pada masa lampau memilih metode dakwah melalui saluran pendidikan, dan bukan perang, sehingga proses islamisasi yang begitu sempurna dinegeri ini hampir tidak ada yang menggunakan kekuatan militer, walau pun begitu harus dibayar tinggi dengan toleransi dan kompromi yang tinggi pula.

Sedangkan data dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Departemen Agama pada tahun 1984-1985 diperoleh keterangan bahwa pesantren yang tertua didirikan pada tahun 1062 atas nama pesantren Jan Jampes II di Pamekasan Madura. Tetapi hal ini diragukan, karena tentunya ada pesantren Jan Jampes II yang tentu lebih tua. Akan tetapi dalam hasil pendataan itu banyak sekali pesantren yang tidak mencantumkan tahu berdirinya. Jadi, mungkin pesantren itu termasuk pesantren yang memiliki usia lebih tua.

Kendati demikian, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang peran sertanya tidak diragukan lagi, adalah sangat besar sumbangsih dan pengaruhnya dalam perkembangan Islam di Indonesia. Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke-16. Karya-karya Jawa Klasik seperti Serat Cabolek dan Serat Centini mengungkapkan bahwa sejak permulaan abad ke 16 di Indonesia telah banyak dijumpai peasantren yang besar yang mengajarkan berbagai kitab Islam Klasik dalam bidang fisika, teologi dan tasawuf dan menjadi pusat-pusat penyiaran Islam. Berdasarkan data Departemen Agama tahun 1984/1985, jumlah pesantren di Indonesia sebanyak 613 buah, tetapi tidak diketahui tahun berapa pesantren itu berdiri.

Demikian pula berdasarkan laporan pemerintahan Hindi Belanda diketahui bahwa tahun 1831 di Indonesia ada sejumlah 1.853 buah lembaga pendidikan Islam tradisional dengan jumlah murid 16.556 orang. Namun laporan tersebut belum memisahkan antara lembaga pengajian dan lembaga pesantren, terbatas hanya di pulau Jawa saja, baru setelah ada laporan penelitian Van Den Berg pada tahun 1885 diketahui sejumlah 14.929 buah lembaga pendidikan Islam, yang ada di Indonesia, 300 diantara merupakan lembaga pesantren.

Pada masa-masa berikutnya, lembaga pesantren berkembang terus dari segi jumlah dan materi yang diajarkan. Dari segi jumlah, perkembangan pesantren terlihat dengan semakin banyaknya jumlah pesantren yang mulai berdiri. Seperti dikatakan Zamakhsyari Dhofier bahwa di Jawa dan Madura dari abad ke 19 semakin bertambah jumlahnya, yakni 1.871 pesantren pada tahun 1942 dan kemudian pada tahun 1977 bertambah menjadi 4.195 pesantren.

Sedangkan menurut Hasbullah, pesantren di Indonesia memang tumbuh dan berkembang sangat pesat pada abad 19 di Jawa terdapat tidak kurang 1.853 pesantren, dengan jumlah santri tidak kurang dari 16.500 santri. Jumlah tersebut belum termasuk pesantren-pesantren yang berkembang di luar Jawa seperti di Sumatra, Kalimantan dan lain-lain. Sedangkan dari segi materi, perkembangannya terlihat pada tahun 1920-an di pondok-pondok pesantren Jawa Timur, antara lain seperti: Pesantren Tebuireng di Jombang, pesantren Singosari di Malang yang mengajarkan Ilmu-ilmu pendidikan Umum, seperti matematika, Bahasa Indonesia, bahasa Belanda, berhitung, ilmu bumi dan sejarah.

Pesatnya perkembangan pesantren pada masa ini antara lain, disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: (1) para ulama dan kiai mempunyai kedudukan yang kokoh dilingkungan kerajaan dan keraton, yakni sebagai penasehat raja atau sultan, oleh karena itu pembinaan pondok pesantren mendapat perhatian besar dar para raja dan sultan; (2) kebutuhan umat Islam akan sarana pendidikan yang mempunyai ciri khas keislaman semakin meningkat, sementara sekolah-sekolah Belanda waktu itu hanya diperuntukkan untuk golongan tertentu; (3) hubungan transformasi antara Indonesia dan Mekkah semakin lancar sehingga memudahkan pemuda-pemuda Islam Indonesia menuntut Ilmu di Mekkah.

Dengan demikian perkembangan pondok pesantren dalam perkembangannya mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mempunyai peran yang sangat besar dalam segala aspek kehidupan masyarakat, sehingga kualitas sumber daya manusia yang berkualitas harus selalu dijadikan out put dari pendidikan pesantren.

Perkembangan dari masa ke masa menunjukkan kearah vertikal yang cukup signifikan. Pada mulanya, pesantren merupakan lembaga pendidikan dan penyiaran Islam konon tertua di Indonesia. Sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat, fungsi itu telah berkembang menjadi semakin kaya dan bervariasi, walapun pada intinya tidak lepas dari fungsinya yang mula-mula. Dan hal ini juga memperluas peran serta pesantren dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghadapi kehidupan yang semakin global yang menuntut kompetisi masing-masing individu untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia.


Referensi:
1. Dawam Rahardjo (ed), Pesantren dan Pembaharuan, ( Jakarta: LP3S, 1985), hlm. 2.
2. Ekslikopedi Islam 4, (Jakarta: PT.Ichtiar Baru Van Hoeve, tanpa tahun), hlm 100.
3. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3S, Jakarta, 1983, hlm, 136.
4. Departemen Agama RI, Nama dan Data Potensi Pondok-Pondok Pesantren Seluruh Indonesia, (Jakarta: Depag., 1984/ 1985).
5. Nurcholis Madjid, Islam Kemodernan dan Keindonesaan,(Bandung: Mizan, 1987), hlm.. 68.
6. Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, (Jakarta: INIS, 1994), hlm 19.
7. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Indonesia, (Jakarta: PT. Grafindo Persada,


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Sumber:
http://kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
http://.arminaperdana.blogspot.com, http://grosirlaptop.blogspot.com
Ping your blog, website, or RSS feed for Free
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel baru yang terbit di Blog Kabar Pendidikan

0 Komentar:

 
Support : Majalah Pendidikan | INSPIRE Consulting | Gudang Makalah | Grosir Laptop
Copyright © 2011. Majalah Pendidikan - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger